Chapter 2

Chapter 2

IMPIAN

“Kringggggggg……..” bunyi alaramku, aku terkejut dan langsung terbangun dari tidurku. Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah di kelas 3 SMP, dengan semangat baru, teman-teman baru dan wali kelas yang baru aku sampai di sekolah tepat waktu.

“Leq, kira-kira kita sekelas gak ya?” tanya Rahmat (teman dekatku)

“Semoga aja” jawabku

“Mat, Leq ngapain pada disini? Udah liat papan pengumuman belum?” Tanya Rama (teman satu sekolah kami)

“Emang di sono ada apaan Ram?” Tanya Rahmat

“Itu……..pembagian kelas” jawab Rama

“Ayo Leq langsung ke papan pengumuman” kata Rahmat

Kami pun segera menuju papan pengumuman setelah mengucapkan terikasih pada Rama.

Tidak banyak basa basi, aku dan Rahmat langsung mencari nama masing-masing, jariku turun naik mencari namaku sendiri, jariku terhenti pada urutan ke 7 tertulis nama “Aleq Alfarizi”.

“ Nah ini dia” kataku

“Udah ketemu Leq? Dapet kelas berapa lo Leq?” tanya Rahmat

“Dapet kelas 9.3 nih, eh eh tunggu deh, ada nama ente juga nih Mat” jawabku

“Mana-mana?” tanya Rahmat

“Oh iya, alhamdulillah kita sekelas, dapet wali kelas yang baik pula, oh iya Leq, ntar malem timnas main nih, nonton gak?”

“Harus lah” jawabku

“Sip lah” kata Rahmat

Sejak kecil, aku memang hobi bermain sepak bola, setiap hari sepulang sekolah, aku pasti menuju lapangan untuk bermain bola dan hampir semua pertandingan sepak bola tak pernah ku lewatkan, terutama pertandingan timnas.

Hujan baru saja berhenti menyapu bersih polusi dibumi ditemani secangkir kopi, aku duduk di depan TV untuk menonton pertandingan antara timnas Indonesia melawan timnas UAE (Uni Emirat Arab) pertandingan ini adalah pertandingan yang menentukan apakah Indonesia bisa lolos ke babak semifinal atau tidak.

Kali ini Indonesia sudah tertinggal satu goal dari UAE akibat hukuman pinalti yang didapat oleh timnas Indonesia, zayed (striker timnas UAE) dengan tendangan kerasnya dapat membobol gawang Andritany (penjaga gawanng timnas Indonesia). kedua kesebelasan bermain sangat bagus saling menyerang dan saling bertahan, sulit bagiku untuk menebak siapa yang akan menang.

Di babak pertama Indonesia adalah tim yang mampu mendominasi permainan, namun, walaupun Indonesia menjadi tim yang mendominasi permainan tapi hanya beberapa peluang kecil saja yang didapat oleh Indonesia.

Di babak kedua, dengan kesungguhan timnas Indonesia menyerang dari sebelah kanan.

“Irfan jaya, Irfan jaya, Irfan jaya mencoba masuk kedalam jantung pertahanan UAE, CUT BACK…..LILIPALY…..JEBRETTTTTT……GOOOOLLLLLL” teriak bung valentino (komentator).

Bagaikan petir disiang bolong, semua orang terkejut dengan gol ini, dengan kesungguhan dan semangat yang tinggi timnas Indonesia mampu bangkit dari ketertinggalan, tentu ini menjadi peluang untuk Indonesia agar bisa masuk ke semifinal.

“Pritttttt……Pritttttttt……” tanda pertandingan usai, pertandingan berakhir dengan skor 1-1, pertandingan akan dilanjutkan dengan adu pinalti. Septian david pemain tengah dari indonesia akan mengambil tendangan pertama.

“Septian David ancang-ancang JEBREETTTTT……. ya ampun kenapa gak goal? Kenapa? Kenapa? Kenapa?” teriak Bung Valentino.

Memiliki pemain-pemain dengan tendangan yang super dahsyat kali ini aku sudah bisa menebak UAE pasti menang dari Indonesia, benar saja, Andritany tidak bisa menepis tendangan demi tendangan yang dilesatkan oleh pemain-pemain dari UAE. Ini merupakan kekalahan pertama untuk Indonesia di kejuaraan kali ini dan mimpi Indonesia pada kejuaraan kali ini harus terhenti di sini.

Kekalahan Indonesia kali ini membuat hatiku tergerak, dan aku berbisik dalam hati “suatu hari nanti, AKU HARUS BISA MEMBAWA INDONESIA JUARA !!” dan akan ku buktikan saat aku dewasa nanti !

Dengan keyakinan yang bulat dan tekad yang cukup kuat, ku tanamkan dalam hati, aku harus bisa membawa Indonesia juara! angan-anganku langsung terbang jauh membayangkan ketika aku bisa membawa Indonesia juara.

Sebuah bola karet berwarna biru milik adikku, terlihat di sudut sebelah TV di rumahku, dengan semangat yang tinggi ku mainkan bola itu. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan para pemain timnas Indonesia, walaupun timnas Indonesia belum bisa menjuarai kejuaraan kali ini.

Keesokan harinya, disore hari yang cerah aku duduk di depan rumahku sambil bersantai menikmati udara disore hari dengan ditemani secangkir kopi aku susun rencana, dan mulai memikirkan bagaimana caranya aku bisa membawa timnas juara? ketika aku mulai memikirkan seketika handphone ku bergetar dan tertulis pesan singkat

Dari Rahmat: “Leq, gue abis futsal nih, mau pulang tapi takut kemaleman, gue nginep di rumah lo yak.”

Spontan saja ku jawab “Yaudah”

Tak berselang lama, Rahmat dengan tubuh yang masih berkeringat datang juga, aku masih saja berpikir bagaimana caranya aku bisa membawa Indonesia menjadi juara, Rahmat dengan wajah yang heran mendekati ku dan bertanya

“Lagi mikirin apaan Leq, kok bengong aja dari tadi.”

“Ente tau gak Mat, gimana caranya biar bisa jadi pemain bola?”

“Ada angin apa nih? Kok tiba-tiba lo nanya begituan?”

“Kesel aja Mat, semalem ane nonton timnas tapi timnasnya kalah, ane pengen jadi pemain timnas gitu Mat biar bisa bawa timnas juara.”

“Zaman sekarang mah susah Leq, lo kalo mau jadi pemain bola harus SSB (sekolah sepak bola) dulu, disini juga susah nyari SSB, ada juga di kampung sebelah noh.”

“Gak apa-apa mat, walaupun jauh ane mah sanggup aja, BTW makasih ya infonya.”

“sama-sama Leq”

Hari pun semakin sore dan matahari tidak menampakkan sinarnya lagi, kali ini rencanaku sudah mulai terbayang, aku akan mulai mewujudkan impianku dengan sekolah sepak bola, aku akan menimba ilmu disana lalu aku akan jadi pemain timnas, itulah yang selalu terbayang di pikiranku.

Hanya tinggal satu langkah lagi aku akan bisa ikut SSB, aku harus meminta izin kepada ibuku, kali ini aku merasa tidak yakin ibuku akan mengizinkan, pasalnya setiap aku ingin bermain bola ibuku selalu saja melarangku, entah apa alasannya yang jelas ia tidak suka jika aku bermain bola.

Aku kembali berpikir bagaimana caranya aku mendapatkan izin dari ibuku? Rahmat yang dari tadi memperhatikan ku nampak bingung dan kembali menghampiriku lalu ia bertanya

“Dari tadi sore kok bengong mulu Leq, sebenernya ada masalah apa sih?”

“Gini Mat, ane mau minta izin sama ibu ane buat ikut SSB tapi takut gak dibolehin, ente bisa bantuin ane gak Mat?”

“Oke deh gue bantuin ngomong ya”

“Thank you Mat”

Dengan percaya diri Rahmat menghampiri ibuku untuk membujuk ibuku agar mengizinkanku untuk ikut SSB. Aku yang takut kalau ibuku tidak memberikan izin langsung pergi masuk ke dalam kamarku, aku tidak ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.

Tak lama kemudian Rahmat menghampiriku dengan wajah yang kurang meyakinkan. Aku yang merasa penasaran dan langsung bertanya pada rahmat. “Gimana mat?” Rahmat hanya geleng-geleng kepala, aku merasa sedih dan kehilangan harapan. Lalu aku mengambil sebuah keputusan, ku hampiri ibuku dan ku bujuk lagi ibuku, dengan kalimat dan nada bicara yang ngotot aku coba dengan segala cara, akhinya ibuku mengizinkan dan berkata, “Yasudahlah kalau itu jadi kemauanmu”. Hatiku merasa gembira karena dengan diizinkannya aku untuk ikut SSB maka peluangku untuk menjadi pemain timnas semakin besar, dan peluang itu tidak akan ku sia-siakan.

Sore ini dengan berbekal sepatu rombeng dan uang 500 ribu aku bersama Rahmat pergi menuju kampung sebelah untuk daftar SSB. Lapangan Koray adalah lapangan tempat mereka latihan, tepat pukul 16.00 kami sampai disana, ku hampiri seseorang lelaki berambut pendek dan menggunakan kaos berwarna biru yang bertuliskan “COACH”

“Assalamualaikum pak, saya mau daftar SSB, kira-kira biayanya berapa pak?”

“Ini dek silahkan dibaca sendiri” (sambil memberikan formulir)

“700 ribu pak? Gak bisa kurang pak?”

“Emang kamu punya uang berapa dek?”

“500 ribu pak”

“Yaudah deh gak apa-apa, oh iya nama kamu siapa dek?”

“ Nama saya Aleq pak, kalo bapak namanya siapa?”

“Nama saya Fikri, kamu bisa panggil saya coach Fikri.”

Dengan semangat yang tinggi ku ikat tali sepatuku kuat-kuat dan langsung terjun ke lapangan untuk menjalani latihan pertamaku di SSB ini. “Ayo semuanya berbaris dulu” ucap coach Fikri, “untuk hari ini kita akan belajar kerja sama tim, saling membantu dalam menyerang dan bertahan, kalo kita sedang menyerang, usahakan menjauh dari lawan dan melebar dan kalo kita sedang bertahan maka mendekat ke lawan dan menyempit untuk mempersempit gerak lawan, untuk itu kita tidak boleh lengah dalam bermain, harus disiplin dan ikuti instruksi pelatih”  begitulah nasihat pertama yang ku dapat dari coach Fikri.

Dengan hati yang senang aku bermain dengan tenang dan penuh semangat, tidak heran aku sering dipuji oleh teman-temanku dan juga coach Fikri karena permainanku yang cukup baik.

Sudah hampir satu tahun aku SSB disini, dengan banyaknya ilmu dan pengalaman yang ku dapat dari SSB ini, coach Fikri memintaku untuk mengikuti seleksi timnas U-15 inilah saat yang ku tunggu-tunggu, dengan bermodalkan semangat dan niat yang cukup kuat akhirnya aku bisa mengikuti seleksi timnas.

“Leq, minggu depan akan diadakan seleksi timnas U-15 di stadion GBK coach harap kamu bisa berlatih lebih giat lagi agar bisa masuk skuad timnas U-15” ucap coach Fikri

“Siap pak”

Sampai di rumah langsung kucari dan ku kabarkan kabar gembira ini, tentu ibuku pasti sangatlah senang jika anaknya berhasil masuk skuad timnas U-15, tapi berbeda dengan apa yang ku banyangkan, justru ibuku hanya memasang wajah yang tidak yakin dan langsung pergi begitu saja.

Aku tidak habis pikir kenapa ibuku bersikap seperti itu padaku, dengan rasa penasaran yang tinggi, lalu ku hampiri ibuku dan bertanya dengan nada yang tinggi,

“Kenapa sih bu, ibu kok gitu, kenapa ibu larang-larang saya main bola?”

“Ini demi kebaikanmu nak”

Hanya itu yang keluar dari mulutnya, ia pun segera pergi dan meninggalkanku sendirian.

Aku semakin bingung, sebenanya apa maksud dari jawaban ibuku, tapi yasudahlah yang penting saat ini aku  harus berusaha agar bisa lolos seleksi timnas U-15. Disemua aktivitasku aku selalu membawa bola, di sekolah bahkan sampai pulang sekolah aku membawa bola untuk latihan.

Hari seleksi timnas sudah semakin dekat, hari ini sepulang sekolah aku akan berlatih sepak bola bersama coach dan teman-temanku, berbeda dengan hari-hari biasa, hari ini aku lebih bersemangat di bandingkan hari-hari biasa saat aku latihan.

Sebelum latihan coach memberi masukan dan arahan, “untuk hari ini kita bagi dua tim, kita lihat seberapa jauh kemampuan kalian” tutur coach Fikri.

Dengan kesungguhan aku dan kawan-kawan satu timmku terus mendobrak lini pertahanan lawan, aku yang berposisi sebagai pemain tengah berperan untuk mengatur serangan, dengan kekompakkan dan semangat yang tinggi aku berlari dengan sangat kencang lalu ku tendang bola itu ke gawang dan berhasil menjadi goal.

Pada istirahat babak pertama entah kenapa perutku sangat sakit, seperti tertusuk pedang, sakit sekali, aku pun terus memegangi perutku

“Kamu kenapa Leq” Tanya coach Fikri

“Ini pak perut saya sakit, saya boleh izin pulang gak?”

“yaudah kalo begitu mah, pulang aja”

Dengan perut yang begitu sakit aku lantas pergi tanpa sepatah kata lagi yang keluar dari mulutku, di perjalanan perutku makin sakit dan sudah tak tahan lagi, aku pun terjatuh dan tak sadarkan diri.

 “Di mana ini?” tanyaku

“Kamu di rumah sakit nak” jawab ibuku

Dengan nada bicara yang ngotot aku pun bertanya lagi, “saya sakit apa bu?”

“Sabar ya nak, sebenarnya kamu memiliki penyakit maag dan sekarang sudah sangat parah, untuk beberapa pekan kamu harus dirawat di sini.”

Aku hanya bisa menangis, bagaimana aku akan bisa ikut seleksi timnas jika begini? Aku sudah tidak peduli rasa sakit, aku hanya ingin ikut seleksi dan membawa timnas juara ! itu saja.

Dengan nada bicara yang semakin ngotot aku bertanya lagi, “Kenapa ibu gak bilang dari dulu? Kenapa baru bilang?”

“Ibu takut kamu kecewa”

Aku hanya bisa menangis dan meratapi hidupku, aku terus saja berdoa pada tuhan agar aku bisa sembuh dan bisa mengikuti seleksi. Tapi mau bagaimana lagi seleksi akan di mulai sebentar lagi, bagaimana aku bisa sembuh dalam waktu yang cepat?

Ibuku mendekatiku dan berkata: “Leq, sebenarnya sejak kecil kamu sudah mengidap penyakit ini, tapi ibu tidak mau kamu bersedih dengan adanya penyakit ini, yang sabar ya Leq.” Sambil mengelus kepalaku

Dengan nasihat dari ibuku dan masukkan dari teman-teman sekaligus pelatihku, saat ini aku sadar, aku tidak boleh egois, seharusnya aku bangga dengan ibuku yang perhatian padaku, aku menghela nafas dan berbisik dalam hati “tidak apa-apa tidak jadi pemain timnas, setidaknya aku sudah berusaha dan aku bersyukur karena memiliki ibu yang sangat perhatian kepadaku, Terima kasih ya Allah.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *